Love you mom 💗
Pontianak, 20 Desember 2020
Hallo readers...
Di antara Ibu dan Ayah, aku lebih dekat dengan ibu mengapa demikian? Karena pengorbanan dan perjuangan ibu begitu besar dimataku mulai dari mengandungku selama 9 bulan 10 hari kemudian melahirkanku kedunia ini dengan pengorbanan yang begitu besar serta telah menyapiku hingga aku berumur 2 tahun, belum lagi setiap malam harus begadang akibat kerewelanku, pengorbanan ibu tidak bisa kusebutkan satu persatu, maka dari itu ibu adalah sosok malaikat yang tak bersayap. Aku baru menyadarinya Ketika kakaku sedang mengandung anaknya yang pertama betapa besar pengorbananya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia ini dengan selamat tidak hanya itu ia harus jaga pola makannya serta kesehatannya, aku merasa sangat berhutang budi kepada ibuku namun apalah daya pengorbanan ibu tidak akan habisnya jadi aku bertekad untuk selalu membahagiakannya walaupun tidak sebanding denga apa yang telah ia lakukan kepadaku. Bukan berarti aku tidak menghargai perjuangan dan pengorbanan ayahku, ayahku juga adalah sosok yang begitu kuat dan rela banting tulang demi menghidupi dan membahagiakan istri dan anak-anaknya dan aku juga sangat menyayangi ayahku.
Ibuku bernama Patima Hasan, orang-orang biasa memanggilnya timang, mak yang, dan daeng. Ibu lahir di Pontianak, pada tanggal 5 Juli 1968 dari pasangan Hasan Ahmad dan Hamina. Ibuku merupakan keturunan asli bugis karena kakek dan nenekku sama sama bugis. ibuku lebih dekat dengan ayahnya dari pada ibunya, saat ayahnya meninggal ibuku sangat sedih sekali dan sangat terpuruk karena ibu di tinggal dengan seorang yang sangat ia cintai di hidupnya setelah ayahku.
Bagiku ibuku sangatlah cantik dan sangat berbeda dariku wkwk, ibuku memiliki hidung yang mancung, bola mata yang berwarna kecoklatan, badannya tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah jadi sedang heheh, rambutnya lurus, alisnya sedikit bersambung dan sedikit tebal, mempunyai bentuk muka yang oval, kulitnya berwarna sawo matang dan sedikit berkeriput mungkin karena faktor usia, ibu juga memiliki tahi lalat di bagian bawah dagunya sehingga membuatnya tampak manis, dan ibu juga memiliki bibir yang tipis di bagian atasnya. Oh iya aku lupa, ibuku juga seorang yang sangat sabar dalam menghadapi sikap anak-anaknya.
Ibuku bersekolah di dekat rumahnya yaitu MIS Al-RIS 2, sekolah tersebut juga merupakan sekolah dasarku. Ibuku anak pertama dari 6 bersaudara tetapi kedua saudaranya telah bertemu dengan sang penciptanya. Sebagai anak pertama ibuku harus memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya. Aku sangat mengagumi ibuku karena dulunya ibuku pernah mengikuti lomba tilawah sedesa pada tingkat anak-anak dan tingkat remaja, dari perlombaan tersebut ibuku berhasil meraih juara 2 terjadi pada tahun 1982 dan 1983. Tahun 1985 ibuku bertunangan dengan ayahku, kemudian pada tahun 1986 ibu dan ayah resmi menjadi sepasang suami istri dan di karuniai 3 orang anak. Sampai sekarang ibuku masih ada rasa penyesalan karena mengapa ia dulu tinggalkan dunia tilawahnya, padahal ayahku dulunya sangat mendukungnya.
Ibuku selalu mendukung dan mensupport aku terhadap apa yang sedang aku hadapi dan ibuku adalah tempat keduaku mengadu dan tidak jarang bahkan aku pun sering sekali berbagi cerita dengannya karena ibu menjaga rahaasiaa anak-anaknya serta akan selalu memberikan nasihat yang terbaik untuk anaknya.bukan hanya aku yang suka cerita mengenai maslah yang aku hadapi tetapi ibu juga sukea bercerita dengan ku mengenai kehidupannya dulu, tetapi mengenai soal percintaan aku tidak terlalu terbuka dengan ibuku, karena aku merasa ibuku tidak terlalu meresponnya mengenai hal itu wkwk. Ibuku orangnya tidak mau menunjukkan kesedihannya pada anak-anaknya mungkin ia takut anaknya khawatir, aku sangat suka buat ibu tertawa karena aku suka melihatnya tertawa lepas karena dengan ibu Bahagia aku juga iku Bahagia.
Ibuku hanya tamatan SD saja, karena pada zaman ibu Pendidikan tidak terlalu di utamakan dan petuah-petuah dulu pun selalu mengatakan “untuk apa sekolah tingi-tinggi dan ujung-ujungnya pun pasti didapur”, ibuku termakan oleh petuah itu maka dari itu ia lebih memilih membantu kedua orang tuanya untuk mencari nafkah. Maka dari itu ibuku sangat ingin aku melanjutkan Pendidikan karena ibu tidak mau aku seprtinya dulu yang termakan oleh petuah tersebut. Ibuku hanyalah ibu rumah tangga dan terkadang ibu juga membantu ayahku untuk mencari nafkah seperti memetic jeruk, mngupas pinang demi tercukupinya kebutuhan sehari-hari, sebagai ibu rumah tangga pasti sangat sibuk karena ibu merupakan peran terpenting didalam sebuah keluarga. Aku sangat kagum kepadanya karena ibu tidak pernah mengeluh Dan segala aktivitas ia lakukan seperti memasak, mencuci dan memberskan rumah dan ibu juga merupakan guru pertama bagi anak-anaknya. Dan ibu jugalah yang telah mengajarkanku tentang banyak hal seperti memasak sayur, mencuci baju yang benar dan lain-lain pokonya ibu adalah guru pertamaku.
Ibuku tidak seperti ibu-ibu yang selalu aktif di sosmed, bahkan ibuku tidak pandai bagaimana caranya menggunakan smartphone , ibu adalah orang yang sederhana ia bergaya sesuai denga apa yang ia punya. Ibuku selalu menegurku jika aku melakukan kessalahan tetapi dengan teguran yang halus. Ibu juga merupakan seorang guru ngaji dan sekaligus guru mengajiku, ibu sangat sabar dalam mengahdapi sikapku ini karena dulunya aku tidak takut dengan ibuku dan aku sangat malas mengaji apalagi guru ngajinya itu adalah ibuku sendiri. Tetapi kelas 2 SD aku baru menyadarinya bahwa aku telah berdosa atas apa yang aku lakukan dulunya dan aku juga baru mengetahui bahwa surga itu berada di telapak kaki ibu.
Ibu sangat ramah di lingkungan sekitar dan ibu juga sangat murah senyum. Seperti yang aku bilang bahwa ibuku adalah sosok sederhana dan selalu bersyukur atas apa yang ia miliki, karena kata ibu kalua kita bersyukur maka allah akan sayang dengan kita dan insya allah akan melebihkan rezeki kita. Kata-kata tersebut akan selalu melekat di kepalaku. Ibu sangat penting dihidupku karena ibu sudah melahirkanku, mendidiku serta sudah mengajarkanku tentang apa yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya menjadi tahu. Pengorbanan dan perjuangannya tidak bisa kubalas satu persatu. Aku mempunyai seorang abang, ia sakit karena Ketika umur 2 tahun ia terjatuh sehingga mengakibatkannya tidak bisa berbicara, dan berjalan jadi segala aktivitasnya ibuku yang selalu membantunya. Ibuku sangat sabar sekali dalam merawat abangku bahkan Ketika ia pulang dari berkebun ia tidak langsung istirahat tetapi langsung merawat abngku seperti memandikannya padahal aku tahu pasti ibuku sangat Lelah tetapi ibuku mengalah dan lebih mementingkan kondisi anak-anaknya. Dan Ketika abangku demam, ibuku tidak bisa makan dan tidur dengan nyenyak karena katanya “abang kau nd bise ngomong macam kau, kalo sakit ini itu“, maka dari itu ibuku sangat khawatir. Jadi bisa dibilang ibuku orangnya khawatiran banget. Ibuku juga tidak menuntutku untuk jadi orang sukses intinya aku bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Aku sangat menyayangimu ibu...maka dari itu semoga aku bisa menjadi orang yang engkau inginkan aamiinn....



Komentar
Posting Komentar